Detail Inovasi Perguruan Tinggi


Tema: CEPHALOPELVIC DISPROPORTION
Judul: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN CEPHALOPELVIC DISPROPORTION
Perguruan Tinggi: Akademi Kebidanan Bhakti Asih Purwakarta
Jenis/sdm: dosen/0410118703#04417514030

Tahun: 2017

ABSTRAK

Latar Belakang: Saat ini, banyak ibu bersalin mengalami kesulitan dalam proses persalinan salah satunya persalinan yang lama yang disebabkan karena kelainan dari panggul ibu maupun kelainan dari bayi. Di Indonesia, AKI mencapi 305 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB mencapai 22,23 per 1000 kelahiran hidup (SUPAS, 2015). Penyebab utama AKI di Indonesia salah satunya disebabkan trauma obstetrik akibat CPD (5%) (Riskesdas, 2013). Pada tahun 2016 kejadian Cephalopelvic Disproportion yaitu sebanyak 70 kasus dari 1.208 persalinan dengan prosentase 5,8% (Data Sekunder RSU Aulia Jakarta, 2016).

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Pada penelitian ini terdapat 5 variabel yang diteliti yaitu usia, tinggi badan, Tinggi Fundus Uteri (TFU), Body Mass Index (BMI), berat lahir bayi. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang mengalami Cephalopelvic Disrpoportion yaitu sebanyak 70 orang dengan menggunakan total sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan cara  mengambil seluruh anggota populasi sebagai sampel.sehingga didapatkan hasil sebanyak 70 orang.

Hasil: Angka kejadian Cephalopelvic Disproportion pada ibu bersalin tertinggi terjadi pada usia kehamilan aterm (37 – 42 minggu) sebanyak 77,1%,. Angka tertinggi berdasarkan usia terjadi pada usia 20–35 tahun (78,6%), hasil penelitian nilai signifikannya 0,766 (p value >α). Berdasarkan tinggi badan yaitu ibu yang memiliki tinggi badan ≥145 sebanyak 42,9%, hasil penelitian nilai signifikannya 0,036 (p value <α). Berdasarkan Body Mass Index (BMI) yaitu pada BMI kurang        (< 18,5 kg/m2) atau lebih ( ≥ 25 kg/m2) sebanyak 55,7%, hasil penelitian nilai signifikannya  0,025 (p value <α). Tertinggi Tinggi Fundus Uteri (TFU) yaitu TFU ≥ 33 cm sebanyak 62,9%, hasil  penelitian nilai signifikannya 0,022 (p value <α). Pada berat lahir bayi tertinggi terjadi pada berat lahir normal (2500 - 4000 gram) sebanyak 60,0%, hasil penelitian signifikannya 0.000 (p value <α).

Kesimpulan: Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian Cephalopelvic Disrpoportion yaitu tinggi badan, Body Mass Index (BMI), Tinggi Fundus Uteri (TFU) sedangkan faktor yang tidak berhubungan yaitu usia.

Kata Kunci: Cephalopelvic Disproportion, ibu bersalin, BMI