Detail Inovasi Perguruan Tinggi


Tema: Peraih PKM – PSH 2019
Judul: Pengembangan Media Pembelajaran Dalam Budaya Literasi Untuk Kearipan Lokal
Perguruan Tinggi: Universitas Djuanda
Jenis/sdm: mahasiswa/#D.1610560 #G.1610334 #C.1810146

Tahun: 2019

Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin „literature„ dan bahasa inggris ‘letter„. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).” (komunikaipraktis.com, 2017) National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. (komunikaipraktis.com, 2017) Budaya literasi kepada masyarakat, dimulai dengan gemarnya membaca buku. Minimal belilah buku satu kali dalam sebulan. Jika kita terbiasa membaca buku, lama-kelamaan akan tumbuh minat menulis. Dari tulis-menulis tak lengkap kalau tidak berdiskusi. Fakta demikian menunjukkan minimnya budaya literasi masyarakat Indonesia. Hal tersebut terjadi bisa saja karena beberapa faktor seperti kurangnya ketersediaan buku bacaan bagi daerah-daerah pelosok atau buku sudah tersedia, namun tidak mau memanfaatkannya. (Yuli, 2017) Keberadaan ini dilanjut Yuli Hastuti, bukan mata kesalahan masyarakat itu sendiri. Tetapi tidak menutup kemungkinan disebabkan oleh kurangnya iklim kondusif, yang dapat merangsang masyarakat untuk gemar membaca di perpustakaan. “Apalagi dengan kemajuan teknologi informasi, masyarakat lebih senang mengeksplor informasi dari gadget dan produk teknologi lainnya,” jelas Yuli Hastuti. (Nar, 2018) Budaya tersebut mampu digunakan sebagai filter untuk menyerap dan mengolah kebudayaan asing yang terpublikasikan ke masyarakat melalui media massa. Menurut penggiat literasi media dari Universitas Diponegoro, Sunarto, budaya literasi idealnya dapat memanfaatkan kearifan lokal yang ada di daerah masing masing. Ini seperti halnya di Kampung adat urug yang masih tetap menjalankan ajaran konsep ngaji diri, budaya pamali, dan budaya gotong royong. Budaya pamali adalah beberapa aturan yang berkaitan dengan pertanian dan tahanan pangan, aturan tersebut ialah larangan untuk menjual beras dan padi, larangan pengolahan padi dan beras dengan mesin, masa tanam yang hanya dibolehkan satu kali dalam setahun yang mana waktu tanamnya 6-7 bulan, yang dilaksanakan secara serempak.(Halimi, 2013)