Detail Inovasi Perguruan Tinggi


Tema: PKM Pengabdian Masyarakat
Judul: Pemberdayaan Pertanian Dalam Pemanfaatan Limbah Sayuran Dan Pembuatan Ekstrak Rebung Bambu Di Desa Sindangjaya Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur
Perguruan Tinggi: Universitas Suryakancana
Jenis/sdm: mahasiswa/5421115018

Tahun: 2017

Dalam upaya meningkatkan indeks pembangunan manusia maka harus

dilakukan pemberdayaan masyarakat. Terutama pada saat ini, semakin

mendapatkan perhatian dari banyak pihak untuk memajukan masyarakat desa

dalam meningkatkan potensi yang dimiliki, termasuk dalam meningkatkan

produksi pangan yang setiap tahun meningkat secara cepat akibat pertambahan

penduduk. Tingginya permintaan akan produksi pangan mendorong petani

untuk lebih aktif dalam memenuhi permintaan tersebut, salah satu upaya yang

dilakukan adalah menggunakan pupuk kimia sintetis karena dianggap mudah

dan hasil nyata yang cepat. Oleh karena itu, pada budidaya pertanian tersebut

petani menggunakan pupuk sintetis secara terusmeskipun mengetahui dampak

dari ketergantungan terhadap pemberian pupuk sintetis seperti menurunya

tingkat kesuburan tanah, resisten dan resurgensi hama ataupun penyakit.

Menyadari hal tersebut, maka perlu adanya usaha lebih dalam

menyadarkan dan memotivasi para petani atau masyarakat agar sadar terhadap

pemberdayaan pertanian yang baik dan tepat terutama pada penggunaan pupuk

organik untuk menciptakan pertanian sustainable agriculture atau

berkelanjutan yang berdasarkan LEISA (LowExternal Input Sustainable

Agriculture) dan GAP (Good Agriculture Practices).Salah satu kelmpok tani

yang harus diberdayakan adalah Kelompok Tani Padajaya Desa Sindangjaya

Kecamatan Cipanas Kabupaten Cianjur sebagai wadah untuk penyebaran

informasi terhadap para petani.

Desa Sindangjaya merupakan salah satu daerah penghasilan produksi

limbah sayuran yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan sayuran yang tidak laku

dijual ke supermarket Jakarta maupun ke pasar dibuang oleh para tengkulak di

jalanan atau sungai perbatasan jembatan Desa Sindangjaya dan Desa Sukatani,

di lahan daerah Lembah Taqwa dan sungai-sungai kecil. Selain daripada itu,

kurangnya kepedulian dan pemahaman petani atau masyarkat terhadap

lingkungan sehingga limbah semakin menumpuk dan berserakahan dimana-

mana.

Sampah dalam kehidupan sehari-hari masih menjadi permasalahan

yang tidak kunjung teratasi. Hal ini karena kurangnya pemahaman masyarakat

akan prinsip 3R, yaitu Reduce (mengurangi sampah), Reuse (penggunaan ulang

sampah), dan Recycle (mendaur-ulang sampah) sehingga apapun yang

dianggap sudah tidak bermanfaat akan berakhir sebagai sampah. Umumnya

sampah berasal dari perumahan dan pasar. Mengingat Desa Sindangjaya

merupakan daerah penghasil tanaman wortel, pakcoy dan brokoli, maka dari itu

perlu adanya peran untuk mengubah paradigma atau kesadaran masyarakat

yaitu mendaur ulang sampah organik agar dimanfaatkan secara optimal dengan

mengembalikan limbah menjadi pupuk organik cair sebagai sumber perbaikan

tanah untuk tetap gembur dan subur serta meminimalisir penggunaan biaya

produksi.

Limbah sayuran wortel, pakcoy dan brokoli terdapat kandungan unsur

hara N,P, K, Ca, Mg, Fe dan jenis mikroba yaitu Azotobacter sp. dengan

jumlah 9.10 x 106 rpm/ml dan Aspergillus sp. dengan jumlah 1.55 x 106

rpm/ml (Sufianto, 2014). Selain daripada itu, pupuk kandang domba (N),

pelepah pisang (P) dan sabut kelapa (K) memiliki unsur hara makro dan mikro

serta mikroorganisme yang berfungsi sebagai perangsang pertumbuhan, dan

agen pengendali hama dan penyakit (Gerbang Pertanian, 2011 dan

Purwasasmita, 2009). Sedangkan Trico-G (Tricoderma sp. dan Gliocladium

sp.) sebagai mikroorganisme yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman

dana gen hayati yaitu pengendali hama dan penyakit (Nurwadani,

1996).Rebung bambu merupakan limbah rumah tangga yang memiliki unsur

hara makro dan mikro, dapat merangsang pertumbuhan tanaman, dan

pengendali hama dan penyakit. Selain daripada itu, air cucian beras sebagai

karbohidrat sedangkan air kelapa dan cairan gula merah sebagai glukosa

(Purwasasmita, 2009).

Menurut Sanchez (2008), bahwa bahan organik bermanfaat untuk

memperbaiki sifat tanah baik secara biologis, fisik dan kimia. Secara biologis

sebagai sumber energi bagi mikrooganisme tanah yang dapat berperan dalam

proses dekomposisi dan ekosistem tanah. Secara fisik sebagai memperbaiki

struktur dan meningkatkan kapasitas tanah menyimpan air. Secara kimia

sebagai meningkatkan daya sangga tanah terhadap perubahan pH tanah,

meningkatan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan menurunkan fiksasi P serta

sebagai reservoir unsur hara sekunder dan unsur makro. Penggunaan ekstrak

rebung bambu untuk pupuk organik cair dipilihkarena memiliki kandungan

giberelin sebagai hormon yang membantu pertumbuhan tanaman. Dengan

demikian, berdasarkan permasalahan tersebut maka dilakukan pemberdayaan

pertanian dengan cara mengadakan penyuluhan dan praktek secara langsung

pembuatan pupuk organik cair dari limbah sayuran dan ekstrak rebung bambu.