Detail Inovasi Perguruan Tinggi


Tema: PKM – PENGABDIAN MASYARAKAT
Judul: Pengembangan padepokan silat
Perguruan Tinggi: Universitas Suryakancana
Jenis/sdm: mahasiswa/8820315063

Tahun: 2017

Pengembangan Bela diri saat ini memerlukan perhatian, terutama bela diri

khas Indonesia yaitu Pencak Silat. Kurangnya perhatian dan kesadaran akan

menjaga budaya pencak silat yang termasuk warisan budaya Indonesia menjadi

tolak ukur kami dalam penyelenggaraan pengabdian masyarakat dalam bidang

Bela diri. Di Indonesia sendiri terbagi dalam beberapa aliran, namun pada

dasarnya gerakan silat sendiri sama. Pukulan, takisan, tendangan dan juga

bantingan. Dalam pengembangan Silat ini bukan tertuju pada satu aliran saja,

tetapi bagaimana budaya Silat ini tetap terjaga dalam jangka waktu lama.

Menurut Mulyana (2013, vii) “Pada masa yang lalu,pencak silat telah

terbukti menjadi alat perjuangan dalam rangka mempertahankan eksistensi bangsa

dari penjajahan asing. Salah satu bentuk melestarikan budaya bangsa adalah

melalui pembelajaran pencak silat di sekolah dan di luar sekolah.Pembinaan

pencak silat yang mengandung falsafah budi pekerti luhur dijiwai oleh nilai-nilai

masyarkat melayu yang mengajarkan nilai ketaqwaan, kejujuran, keuletan dan

juga keadilan”

Silat adalah warisan budaya bangsa dan menjadi salah satu perwujudan

karakter bangsa yang harus kita jaga dan dirawat bersama. Menurut Presiden

Republik Indonesia “Pencak silat merupakan sarana putra bangsa dalam

menunjukan etos kerja produktifitas kepada diluar selain itu, Pencak silat juga

dapat menumbuhkan semangat berani berkompetisi dan bersaing bagi anak – anak

muda. Inilah pendidikan karakter yang memang hendak ditanamkan pemerintah

melalui pengembangan sumberdaya manusia”. Dari kutipan tersebut diambil dari

website PresidenRI. Kita mengetahui bahwa dengan belajar seni bela diri yaitu

silat kita bisa menggali potensi sumber daya manusia.

Masih banyak orang yang beranggapan bahwa berlatih bela diri sama

dengan berlatih kekerasan. Karena disana diajarkan cara memukul, menendang,

menyerang, menghindar dan menangkis, yang merupakan gerakan-gerakan silat.

Pada hakikatnya Silat ini memberikan pengaruh positif, bukan berarti

mengadu kekuatan dalam sebuah pertandingan tetapi disini lebih condong pada

pengembangan diri generasi muda membangun karakter dan mental yang kuat.

Kita harus melihat dari sudut pandang lain. Kita bisa melihat dari manfaatnya.

Dilihat dari sudut pandang manfaat mengikuti bela diri yaitu generasi

muda dapat memelihara kesehatan jasmani, pembentukan karakter diri dapat diolah melalui pelatihan bela diri, salah satunya ketika mengikuti pertandingan

atlet dituntut untuk memiliki jiwa sportifitas yang tinggi.

Kepopuleran Silat saat ini mengalami daya saing tinggi, karena banyak

jenis bela diri masuk ke Indonesia. Namun, di luar negeri Silat ini memiliki

tempat untuk pengembangannya karena kecintaannya terhadap Silat. Dalam satu

artikel dikutip dari okezone.news di American University, Washington DC,

Pencak silat masuk kedalam kurikulum untuk di pelajari mahasiswa. Dengan

demikian ini membuktikan bahwa seharusnya pencak silat ini lebih populer di

Indonesia dari pada di luar negeri. Ini akan menjadi tugas kita untuk melawan arus

laju masuknya bela diri luar dan mempertahankan eksistensi seni bela diri kita

yaitu Silat.

Setiap tahun dalam era perkembangan jaman selalu mengalami perubahan

sosial seperti cara berkmunikasi, kebiasaan, permainan dan juga nama dari nama

era itu sendiri. Seperti Baby Boomers kelahiran 1946-1964 Perkembangan

teknologi pada masa ini berkembang cukup pesat dan musik bergenre rock and

roll juga lahir pada era ini. Kemudian ada Generasi X kelahiran 1965 – 1980 pada

era mengalami penurunan angka kelahiran karena pada era ini terjadi anti anak di

negara adidaya seperti Amerika Serikat. Setelah itu ada genersi Y kelahiran 1981-

1994 dikenal sebagai generasi Millenium anak muda yang selalu ingin coba –

coba dan perduli soal teknologi. Dan saat ini Generasi Z lahir 1995-2010 besar

diera digital dan kemajuan teknologi canggih dan ini akan berpengaruh pada

kepribadian dan pola hidup mereka. (Zetizen).

Kami mengambil generasi Z sebagai sasaran perkembangan penelitian ini

karena pada generasi seakan – akan hidup bergantung pada teknologi. Memang

kemjuan teknologi ini memberikan manfaat yang banyak salah satunya dengan

internet kita bisa mengakses berbagai macam informasi. Namun, permasalahan

pada generasi ini adalah penggunaan teknologi berlebihan. Ini berdampak pada

beberapa aspek, seperti lebih penggunaan ponsel yang terlalu lama sehingga malas

untuk bergerak ataupun generasi ini lebih senang mengobril secara online dari

pada langsung. Dengan begitu kebiasaan hidup mereka dan gaya hidup generasi

ini berbeda dengan sebelumnya. Maka dari itu kami yang juga termasuk pada

generasi ini ingin mengimbangi kemajuan teknologi dan memanfaat teknologi

untuk hal positif. Lalu apa kaitannya dengan pengembangan Silat, kita bisa lihat

fenomena yang terjadi saat ini juga. Dimana generasi Z ini banyak yang seolah –

olah melupakan warisan Indonesia yang sudah ada sejak lama yaitu Silat. Kami

ingin menunjukan rasa kepedulian kami terhadap warisan budaya Indonesia.Dalam pengembangan ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Tujuan dari pengembangan Silat sendiri yaitu untuk pelestarian budaya. Sebagai

generasi Z kita memiliki tanggung jawab untuk tetap mempertahankan pencak

Silat. Kegiatan ini akan membuka beberapa potensi yang ada dalam diri setiap

orang ketika akan diolah kemampuannya dalam bidang bela diri. Setiap orang

memiliki keunikan dalam menguasai bidang ini, apabila seseorang tersebut

memang memiliki jiwa petarung maka orang tersebut akan ahli pada pertandingan

separingan atau biasa disebut tarung dan apabila seseorang memiliki jiwa seni

tinggi biasanya orang tersebut memiliki kemampuan atau keindahan saat

melakukan gerakan – gerakan Silat.

Terlepas dari potensi generasi Z yang sebenarnya bisa memiliki peluang

untuk menguasai teknik Silat. Terdapat kekurangan yang menjadi faktor utama

dalam pengembangan Silat ini. Pelatih menjadi kunci utama dalam

mengembangkan ilmu bela diri. Apabila saat ini jumlah pelatih Silat terbatas

maka akan berpengaruh pada minat seseorang dalam mempelajari Silat. Saat ini

zaman terus melaju, kemudian sedikit demi sedikit banyak perguruan silat padam

dengan sendirinya. Sulit mempertahankan eksistensi perguruan silat pada era

modern ini, karena apabila suatu budaya ingin berkembang haruslah kita

memberikan kontribusi dalam mengimplementasikan Silat dalam kehidupan saat

ini.

Potensi di Desa. Mekarsari Kec. Cianjur dalam pengembangan Silat ini

bisa dikatakan memiliki peluang besar untuk mencapai target yaitu membuat

generasi muda disana memiliki minat untuk mempelajarinya. Kemudian kita

sebagai mahasiswa yang peduli akan hal ini mencoba untuk membuat Padepokan

Silat dimana anak – anak generasi Z tetap mecintai budaya Indonesia.